
Saat Kemiskinan
Bertekuk Lutut pada Sujud Terakhir
Penulis:
Kusnan
Desain dan Layout:
Kamila Press
Allright reserved ©2026
Hak cipta dilindungi undang-undang pada penulis
Cetakan Pertama, September 2026
Jumlah halaman:
viii + 176: 14,5 x 20,5 cm
ISBN :
Penerbit:
CV. Kamila Press Lamongan
Anggota IKAPI Nomor: 418/JTI/2024
Jalan Ahmad Yani Ds. Tlanak RT.004/RW.003
Kec. Kedungpring-Lamongan 62272
Email: kamilapresslamongan24@yahoo.com
gusmukminin@gmail.com
WA: 0813 3094 4498
Isi Buku;
Di bawah asuhan langit malam yang acuh tak acuh, takdir seolah sengaja menenun benang hitam di atas pundak Kusnan. Di usianya yang masih belia, maut telah merenggut kedua orang tuanya, meninggalkan ia bersama keempat adiknya yang masih ringkih di hadapan raksasa kemiskinan yang beringas mencabik-cabik lambung dan impian mereka. Namun, di telinga Kusnan, tanah Bose-Bose tidak pernah berhenti membisikkan amanah terakhir sang ayah, sebuah warisan suci untuk menantang gelombang keterpurukan melalui jalur pendidikan. Dengan modal nekat, cinta yang menyala, dan selembar sajadah usang, Kusnan melangkah menantang lautan, merantau ke tanah Minahasa tanpa sepotong pun sanak saudara.
Manado menyambut langkah pertamanya dengan pelukan angin malam yang menusuk tulang dan hujan deras yang menghakimi. Di kota asing ini, malam-malam awal Kusnan dihabiskan dengan tidur bergelung di kolong jembatan, berteman linu yang merayap di sela-sela semen dingin. Siang hari, ia memeras keringat di ruang kuliah Universitas Negeri Manado, sementara malamnya, jemari Kusnan harus rela melepuh dan berdansa di antara tumpukan piring kotor warung makan demi upah sepuluh ribu rupiah. Setiap tarikan napasnya adalah pengorbanan; setiap butir peluh yang jatuh adalah jembatan finansial yang ia seberangkan ke kampung halaman agar adik-adiknya tidak mati kelaparan di bawah belas kasihan orang lain.
Waktu terus bergulir, menyaksikan bagaimana ketekunan Kusnan perlahan-lahan merubuhkan keangkuhan takdir. Kapur tulis di jari-jarinya mulai menyapa dengan kehangatan magis ketika ia resmi diangkat menjadi guru PNS. Pintu kemakmuran yang selama belasan tahun terkunci rapat, kini diketuk paksa oleh selembar SK PNS dan ijazah Magister. Manado yang dahulu acuh, kini membuka lengannya lebar-lebar, memeluk seluruh adik Kusnan yang ia jemput untuk selamanya hidup merdeka di bawah asuhannya.
Novel ini mencapai puncaknya ketika Kusnan, sang anak yatim piatu yang dahulu akrab dengan rasa lapar, berhasil menundukkan kepala di atas podium tertinggi sebagai seorang kandidat Doktor Ilmu Linguistik. Di sepertiga malam yang beku, di atas sajadah yang setia memeluk segala lelahnya, Kusnan bersujud pasrah. Di titik itulah, monster kemiskinan yang dahulu beringas, akhirnya melutut pasrah di bawah kaki ketekunan, doa, dan cinta kasih seorang kakak yang berhasil mengantar adik-adiknya menjemput fajar masa depan yang cerah dan abadi.
